Susandi - Analisis Usaha Tani Jengkol.com


ANALISIS USAHA TANI JENGKOL
STUDI KHASUS DESA LAE PINANG
KECAMATAN SINGKOHOR KABUPATEN ACEH SINGKIL

PROPOSAL SKRIPSI


SUSANDI
152010034



PROGRAM STUDY AGRIBISINIS
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN 
YAYASAN SYEKH HAMZAH FANSURY
2019



DOSEN PEMBIMBING 1
HENDRA SUNARNO, SE., Ak,. M.Si

DOSEN PEMBIMBING II
OKTA KURNIAWAN TB, SE,. M.Si


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Indonesia dikenal sebagai negara agraris lebih kurang 60% penduduknya bekerja dalam bidang pertanian.  Pertanian, budidaya tanaman dan ternak menajdi kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian bangsa indonesia. Perekonomian merupakan pendapatan utama dan dasar devisa negara (Abbas Tjakra Wiralaksana dan M. Cuhaya Soeriatatmadja, 1983)
Sektor pertanian merupakan sektor yang mampu bertahan dalam kondisi apapun, termasuk saat krisis ekonomi melanda berbagai negara di dunia termasuk indonesia. Sektor pertanian juga menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Pertanian adalah suatu sistem keruangan yang merupakan perpaduan subsistem fisis dan subsistem manusia. Subsistem fisis terdiri atas komponen-komponen tanah, iklim, hidrologi, dan segala proses alamiah. Subsistem manusia adalah tenaga kerja, kemajuan teknologi yang ada di masyarakat, kemampuan ekonomi dan kondisi politis setempat  Tanaman jengkol merupakan tanaman tahunan yang termasuk dalam famili Fabaceae. Tanaman jengkol merupakan tanaman asli daerah tropis yang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi dan dataran rendah. Secara geografis, tanaman jengkol terdistribusi secara luas di daerah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Di Indonesia banyak ditemukan nama lain untuk tanaman jengkol, seperti Gayo: jering, Batak: jering, Karo dan Toba: joring, Minangkabau: jariang, Lampung: jaring, Dayak: jaring, Sunda, jengkol, Jawa: jingkol, Bali: blandingan, dan Sulawesi Utara.  Jenis jengkol lokal yang terdapat di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat dikelompokkan menjadi dua, yaitu jengkol bareh dan jengkol kabau. Jengkol bareh atau dalam bahasa daerahnya jariang bareh memiliki bentuk buah lebih tebal, tekstur buah agak renyah, dan rasa lebih manis. Jengkol kabau atau jariang kabau memiliki bentuk buah lebih pipih, tekstur buah agak liat, dan rasa lebih hambar. (Nursid Sumaatmaja, 1988).
Tanaman jengkol belum dibudidayakan secara optimal di Indonesia. Hal tersebut karena masyarakat masih belum terbiasa untuk membudidayakan tanaman jengkol. Masyarakat cenderung mendapatkan buah jengkol yang tumbuh secara liar di lahan pekarangan rumah atau hutan. Tanaman jengkol hanya digunakan sebagai tanaman pembatas atau pohon pelindung di perkebunan. Selain itu, beberapa orang tidak menyukai buah jengkol karena dapat menyebabkan bau mulut dan bau badan. Kandungan asam jengkolat pada buah jengkol akan mengendap dan membentuk kristal jarum-jarum halus apabila bertemu dengan urin yang asam. Kristal-kristal ini dapat merusak jaringan dinding ginjal dan saluran urin. Hal ini menyebabkan terjadinya kejengkolan. Kejengkolan adalah gangguan buang air kecil akibat terlalu banyak mengonsumsi jengkol. Jengkol digunakan sebagai obat diabetes. Di bidang industri, kayu jengkol dimanfaatkan untuk bahan baku kontruksi dan mebel. Di bidang pertanian, kulit jengkol dimanfaatkan untuk herbisida dan pupuk organik. Kulit jengkol yang didekomposisi selama lima hari mengandung asam lemak rantai panjang dan fenolat yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain.  Kulit jengkol yang diaplikasikan dalam bentuk butiran dapat memperbaiki pertumbuhan akar sehingga berpengaruh terhadap serapan hara, laju fotosintesis dan transpirasi, serta bobot kering akar padi sawah (Nurjanah, 2014).
Di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil, tanaman Jengkol sudah bayak yang melakukan budidaya Jengkol. Namun hingga pada saat ini pendapatan dari hasil produksi jengkol merupakan pendapatan sampingan dari pekerjaan tetap keluarga. Pemasaran Jengkol bukanlah hal yang sangat sulit, karena tidak sedikit juga masyarakat yang menyukai Jengkol. sehingga tidak diherankan bahwa para petani Jengkol memiliki pendapatan yang cukup tinggi atau keuntungan yang luamayan besar dari hasil produksi tanaman Jengkol tersebut. Dengan demikian tidak diherankan bahwa sebagian besar banyak juga petani yang membudidayakan tanaman Jengkol dikarnakan potensi pasarnya yang baik serta memiliki jaringan pasar yang cukup luas. Selain itu, dengan membudidayakan tanaman Jengkol dapat meningkatkan pendapatan bagi keluarganya.
B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :
1.         Belum diketahui besarnya biaya tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol.
2.         Belum diketahui besarnya biaya tidak tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol
3.         Belum diketahui tingkat pendapatan usahatani dan kelayakan usaha tani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil.
C.      Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut :
1.         Pembatasan masalah dalam penelitian ini hanya menentukan besarnya biaya tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol.
2.         Pembatasan masalah dalam penelitian ini hanya menentukan besarnya biaya tidak tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol
3.         Pembatasan penelitian ini hanya tentang besarnya tingkat pendapatan dan kelayakan usahatani Jengkol.
D.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.         Seberapa besarkah biaya tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol ?
2.         Seberapa besarkah biaya tidak tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol?
3.         Bagaimanakah tingkat pendapatan usahatani dan kelayakan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang  Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil ?
E.       Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.         Untuk mengetahui besarnya biaya tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol
2.         Untuk mengetahui besarnya biaya tidak tetap yang digunakan dalam usahatani Jengkol
3.         Untuk mengetahui tingkat pendapatan  dan kelayakan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil.
F.       Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.         Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S-1) di Sekolah tinggi Ilmu Pertanian (STIP) YASHAFA Aceh Singkil.
2.         Sebagai bahan acuan dan pertimbangan bagi penelitian sejenis pada masa yang akan datang.
3.         Dapat menjadi bahan pertimbangan bagi petani dalam pengelolaan usahatani Jengkol.
4.         Dapat mengetahui besarnya biaya total yang di gunakan petani dalam usahatani Jengkol
5.         Dapat mengetahui tingkat pendapatan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil.
6.         Dapat mengetahui tingkat Kelayakan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil.
G.      Gambaran Umum Daerah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai April 2019 sampai dengan selesai. bertempat di Desa Lae Pinang  Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil. Secara geografis Desa lae Pinang terletak pada :
02º      15’      00,0                   -           02º       16’       48,6”   LU
097º    53’      03,4”                 -           097º     54’       18,0”   BT


1.         Tofografi Wilayah
a.          Ketinggian (Elevasi)
Lokasi penelitian memiliki ketinggian  0,5 m dpl s/d 1 m dpl.
b.         Kemiringan
Keadaan kemiringan lahan di lokasi penelitian memiliki kemiringan yaitu berbukit
2.         Tanah
Secara umum jenis tanah di Desa Lae Pinang  adalah jenis tanah Histosol dan mineral.
3.         Keadaan Iklim
Menurut data curah hujan dari stasiun curah hujan, Badan Metereologi dan Geofisika cuarah hujan di Desa Lae Pinang berkisar antara. 1.000 s/d 2.000  mm/tahun.
4.         Keadaan Vegetasi
Berdasarkan hasil orientasi di lapangan kondisi vegetasi di lokasi penelitian adalah rumput dan semak.
Adapun batas batas wilayah sekitaran Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil Adalah :
1.    Sebelah Utara Berbatasan Dengan Kecamatan longkib Pemko Sebulussalam
2.    Sebelah Selatan Berbatasan Dengan Kecamatan Gunung Meriah
3.    Sebelah Barat Berbatasan Dengan Kecamatan Penanggalan Pemko Sebulusalam
4.    Sebelah Timur Berbatasan Dengan Kecamatan Kota Baharu
Desa Lae Pinang merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk yang mencapai angka rata-rata dari seluruh jumlah penduduk desa yang ada di Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil hal tersebut di tunjukkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Tahun 2017
No
Nama Desa
Jenis Kelamin (Jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Sex Ratio
Laki-laki
Perempuan

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

1

Lae Pinang

611

650

1261

94.00

Sumber : Kepala Kampong Dalam Kecamatan Singkohor, 2017
Tabel 1.2. Luas Desa. Jumlah Penduduk dan Kepadatannya di Desa Lae Pinang  Kecamatan Singkohor Tahun 2017
No
Nama Desa
Luas Desa
(Km2)
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)

(1)
(2)
(3)
(4)

1


Lae Pinang


20


1261


63.05

Sumber : Kepala Kampong Dalam Kecamatan Singkohor, 2017
Tabel 1.3. Jumlah Penduduk Menurut Usia 7 – 12 tahun. Status Pendidikan di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor pada Akhir Tahun 2017 (Dalam Jiwa)
No
Nama Desa
Jumlah
Sekolah
Tidak Sekolah

(1)
(2)
(3)
(4)

1

Lae Pinang

72

70

4

Sumber : Kepala Kampong Dalam Kecamatan Singkohor, 2017



Tabel 1.4. Jumlah Rumah Tangga Menurut Mata Pencaharian di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor pada Tahun 2017
No
Nama Desa
Jumlah Rumah Tangga Menurut Mata Pencaharian (RT)
PNS/TNI/POLRI
Usaha-usaha
Pertanian
Perkebunan
Perikanan
Peternakan
Kehutanan

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

1
Lae Pinang

45

-

342

-
11
-
Sumber : Kepala Kampong Dalam Kecamatan Singkohor, 2017
Tabel 1.5. Luas Areal dan Produksi Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkor Tahun 2017
No
Nama Desa
Durian
Luas Areal (Ha)
Produksi (Ton)

(1)
(2)
(3)
1
Lae Pinang
15

7
Sumber : Kepala Kampong Dalam Kecamatan Singkohor, 2017












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Kajian Teoritis
1.        Sejarah Singkat Tanaman Jengkol
            Jengkol bukanlah tanaman asli Indonesia, namun olahan jengkol cukup banyak ditemukan di Indonesia, mulai dari keripik jengkol, lalapan hingga semur jengkol. Meski terkenal menyebabkan bau, hampir semua orang Indonesia mengenal jengkol, bahkan sudah memakannya. Jengkol memiliki nama latin Pithecellobium jiringa atau Pithecellobium lobatum. Tanaman ini sangat khas di Asia Tenggara. Kita dapat dengan mudah menemukannya di Indonesia, Malaysia, Myanmar hingga Thailand. Di Indonesia sendiri, nama lain jengkol juga bermacam-macam. Misalnya kalau di Jawa kita menyebutnya jengkol, di Batak dikenal sebagai jering. Perkembangan jengkol di Indonesia Tak seperti di Jakarta, orang Sumatera belum terbiasa membudidayakan tanaman jengkol. Bagi orang Sumatera, jengkol lebih sering dianggap sebagai makanan murahan. Hal ini dikarenakan olahan jengkol yang menyebabkan bau tak sedap, baik pada nafas maupun sisa pencernaan. Orang yang memakan jengkol juga sering menjadi bahan ejekan. Lain halnya dengan orang Jakarta. Masyarakat Jakarta terutama orang-orang betawi banyak yang membudidayakan tanaman jengkol dengan menanamnya di pekarangan rumah. Saking banyaknya, wilayah Pondok Gede dan Lubang Buaya sangat terkenal dengan masakan semur jengkolnya, dan disebut sebagai makanan khas orang Betawi. Makanan berlemak ini membuat perut menjadi rata Sampai sekarang belum ditemukan adanya catatan resmi mengenai awal mula masuknya jengkol ke Indonesia. Dalam Babad Giyanti karya Yosodipuro, disebutkan bahwa pohon jengkol sudah pernah digunakan sebagai patok cikal bakal kota Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dulu jengkol identik dengan makanan rakyat pinggiran, bahkan juga dianggap sebagai makanan sampah. Namun sekarang, orang-orang sudah banyak yang menyukainya, termasuk orang-orang kota. Selain sebagai lauk pauk, jengkol juga bisa digunakan sebagai obat diare, diabetes, baik untuk kesehatan jantung, sebagai bahan keramas serta penambah karbohidra. (Purnomosidhi, 2007)
2.        Klasifikasi dan Karakteristik  Tanaman Jengkol
Menurut (Hutauruk, 2010). Klasifikasi tanaman Jengkol adalah :
Kingdom
Plantae ( Tumbuhan )
Subkingkom
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super divisi
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas
Magnoliospida (Dikotil / berkeping dua)
Sub kelas
Rosidae
Ordo
Fabales
Famili
Fabaceae (suku polong – polongan )
Genus
Pithecollobium
Spesies
Pithecollobium lobatum benth











3.        Morfologi Tanaman Jengkol
Tumbuhan jengkol merupakan tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara dengan ukuran pohon yang tinggi yaitu ± 20m, tegak bulat berkayu, licin, percabangan simpodial, cokelat kotor. Bentuk majemuk, lonjong, berhadapan, panjang 10 – 20 cm, lebar 5 – 15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,5 – 1 cm, warna hijau tua. Struktur majemuk, berbentuk seperti tandan, diujung dan ketiak daun, tangkai bulat, panjang ± 3cm, berwarna ungu kulitnya, bentuk buah menyerupai kelopak mangkok, benag sari kuning, putik silindris, kuning mahkota lonjong, putih kekuningan. Bulat pipih berwarna coklat kehitaman, berkeping dua dan berakar tunggang. Pohon Jengkol sangat bermanfaat dalam konservasi air di suatu tempat hal ini dikarenakan ukuran pohonnya yang sangat tinggi (Hutauruk, 2010).

4.       Teknik Budidaya Tanaman Jengkol
a.    Syarat Lokasi
Tanaman jengkol membutuhkan kadar penyinaran yang tinggi sepanjang hari, oleh karena itu pastikan lahan tanam jengkol tidak tertutup dari sinar matahari. Selain itu, pohon jengkol membutuhkan pasokan air yang tinggi yang juga diikuti dengan kadar kelembaban yang cukup. Pohon jengkol yang cukup adaptatif dapat ditanam dimanapun asalkan dekat dengan sumber air. Meskipun pohon jengkol dapat tumbuh dimana saja dan tidak membutuhkan lahan khusus, tetapi  jengkol perlu diperhatikan dari mulai penanaman. Dari percobaan, pohon jengkol akan lebih mudah berkembang apabila ditanam di awal musim hujan dan pohon akan lebih cepat tumbuh dan berkembang. Hal ini tentunya akan membuat pohon jengkol lebih cepat berbuah (Benard dan Wiryanta, 2007)
b.    Pembibitan
Pohon jengkol dapat ditumbuhkan dengan dua cara, yaitu dengan ditanam dari bijinya atau melalui cara cangkok. Untuk memperoleh bibit jengkol, hal yang harus dilakukan adalah menyediakan kantong plastik tanam ukuran kecil yang sudah diisi tanah didalamnya. Kemudian tanamlah biji jengkol di dalam plastik tanaman yang berisi tanah subur tersebut. Sirami secara teratur hingga tumbuh kecambang jengkol yang akan muncul kurang lebih 2-3 minggu kemudian. Setelah kecambah jengkol muncul, saatnya bibit tersebut dipindah ke lahan yang lebih besar yang sudah disiapkan. Berikanlah pupuk secara teratur agar pohon dapat tumbuh secara sehat. Berikanlah perlindungan pada saat tanaman masih muda agar tidak diganggu hama. Tanaman jengkol yang ditanam melalui biji atau bibit akan mulai berbuah apabila telah berumur lima tahun atau lebih. Apabila pohon jengkol tumbuh melalui proses cangkok, maka jangka waktu berbuahnya akan jauh lebih pendek (Ashari, 1995)
c.    Hama
Hama yang banyak menyerang tanaman jengkol adalah  ulat buah yang sering tidur dan menggerogoti buah jengkol yang sudah tua hingga buahnya keropos dan berlendir, kemudian ada hama  bajing( tupai) yang suka menggerogoti buah jengkol yang setengah tua karena pada masa itu jengkol berasa manis. Hama lain yang banyak menyerang di sebut “ boloren “, tidak hanya kambium tapi menyerangnya sudah sampai pada hati pohon, jika tak terselamatkan pohon akan mengering dan mati (Ashari, 1995)
d. Panen
Umur sekitar lima tahun jengkol sudah bisa berbuah. Jika dengan cara vegetatif seperti cangkok dan okulasi, umur berbuahnya bisa lebih pendek lagi. Satu pohon jengkol yang sudah cukup umur, bisa menghasilkan jengkol bersih yang sudah dikupas 15-20 Kilo gram  (Ashari, 1995)
5.        Analisis Pendapatan Usahatani
Arfah dkk (2013) menyatakan bahwa analisis pendapatan usahatani berfungsi untuk mengatur kegiatan usaha tani menguntungkan atau tidak. Ukuran untuk menetapkan besarnya pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.
Ada beberapa hal yang diperlukan dalam memperhitungkan pendapatan usaha tani yaitu :
a.    Biaya (Cost)
   Biaya merupakan semua jenis biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan usaha Petani. Biaya dibedakan menjadi Tiga macam, yaitu biaya tetap, biaya tidak tetap dan total biaya.
b.    Biaya Tetap (fixed cost)
Biaya teta  merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran input-input tetap (fixed inputs) dalam proses produksi jangka pendek.
c.    Biaya Tidak Tetap (variabel cost),
Biaya Tidak Tetap merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran input-input variabel (variabel inputs)  dalam proses jangka pendek.

d.   Penerimaan
Penerimaan adalah banyaknya produksi total dikalikan dengan harga yang berlaku ditingkat petani
e.    Pendapatan
Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan pengeluran usahatani.
f.     Kelayakan Usaha
Kelayakan Adalah kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang akan dijalankan, untuk menentukan layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan.tujuan utama dilakukan studi kelayakan bisnis ini tentunya yang akan berdiri bisa berjalan sesuai harapan baik dalam jangka pendek atau panjang serta untuk mengukur seberapa besar potensi usaha tersebut baik dalam situasi mendukung maupun situasi yang tidak mendukung.
g.    Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) Merupakan perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan atau pendapatan yang diperoleh dari investasi dengan nilai sekarang dari pengeluaran (biaya) selama investasi tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu.
h.    R/C Ratio (Revenue Cost Ratio)
R/C Ratio (Revenue Cost Ratio) Merupakan perbandingan antara penerimaan dan pengeluaran dari suatu usaha yang dijalankan yang diperoleh dari investasi dengan nilai sekarang dari pengeluaran (biaya) selama investasi tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu.
i.      Break Even Point (BEP)
Break Even Point (BEP) adalah titik dimana pendapatan dari usaha sama dengan modal yang dikeluarkan, tidak terjadi kerugian atau keuuntungan. Break Even Point (BEP) menjadi ukuran yang penting dalam bisinis. Namun sering pengusaha mengaritikan BEP dengan balik modal.
B.       Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui terhadap total pendapatan usaha tani Jengkol dan tingkat Pendapatan usahatani Jengkol Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil. Hasil penelitian, metode penelitian, lokasi penelitian, atau objek penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan, dijadikan sebagai referensi atau relevansi dalam penelitian ini.
Beberapa penelitian yang relevan yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut :
Danarto Dkk (2017). Analisis Finansial Usahatani Pembibitan Tanaman Jengkol Pada Kelompok Tani Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat. Tujuan penelitian ini adalah (1). Untuk mengetahui tahapan usaha pembibitan Tanaman Jengkol yang di usahakan oleh masyarakat di Kecamatan Borong Tongkok Kabupaten Kutai Barat (2). Untuk mengetahui kelayakan financial usahatani pembibitan Tanaman Jengkol di Kecamatan Borong Tongkok Kabupaten Kutai Barat. Analisis kelayakan finansial pada usahatani pembibitan Tanaman Jengkol di Kampung Ambou Asa dan Geleo Asa Kecamatan Barong Tongkok menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp. 38.330.000, sedangkan penerimaan sebesar Rp. 150.000.000, dan keuntungan sebesar Rp. 111.670.000, dan merupakan usahatani tersebut layak di usahakan. Dengan hitungan B/C Ratio yang di peroleh sebesar 3,91, produktivitas produksi lebih besar dari BEP produksi yaitu 110.000 bibit > 5.679 bibit dan harga yang diterima oleh pemilik pembibitan lebih besar dari BEP harga yaitu Rp. 2.000 > Rp. 348,45.
Hardjo Sumarno (2013) Analisis Pendapatan Usahatani Jengkol di Desa Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1). Struktur biaya usahatani Jengkol dari tahun tanam sampai dengan tahun panen di Desa Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara (2). Untuk mengetahui pendapatan usahatani durian pada tahun panen pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima di Desa Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa struktur biaya usahatani Jengkol di Desa Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara melipiti biaya tetap dengan total biaya tetap rata-rata senilai Rp. 194.995,00 dan biaya variabel dengan total biaya variabel rata-rat senilai Rp. 44.783,268. Pendapatan yang diperoleh pada usahatani Jengkol di Desa Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara yaitu rata-rata senilai Rp. 2.231.733,00. 
Agung Kurniawan (2016) “Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha Kripik Jengkol di Desa Lumbu Tarombo Kecamatan Banawa Selatan Kabupaten Donggala”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kelayakan usaha Kripik Jengkol didesa lumbu tarombo kecamatan banawa  selatan kabupaten donggala. Penelitian ini dilaksanakan didesa lumbu tarombo pada bulan september 2015. Penentuan responden dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui pendapatan usaha Kripik Jengkol didesa lumbu tarombo kecamatan banawa selatan kabupaten donggala. 2) mengetahui kelayakan Kripik Jengkol didesa lumbu tarombo kecamatan banawa selatan kabupaten donggala. Dari hasil  penelitian yang didapat maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) pendapatan atau keuntungan pada jumlah penerimaan dan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Pendapatan usaha Kripik Jengkol perbulan sebesar Rp. 15.950.375 per  bulan . 2)Kripik Jengkol layak untuk diusahakan yang diindikasikan nilai    > 1 sebesar 1,18
Sugirto, (2016). Analisis Pendapatan buah Jengkol Di Desa Wanasangi Kecamatan Jember  Kabupaten Kalimatan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah : 1) untuk mengetahui berapa pendapatan petani Jengkol di desa Wanasangi Kecamatan Jember  Kabupaten Kalimatan Selatan. Dari hasil penelitian yang di dapat adalah: petani Jengkol Wanasangi Kecamatan Jember  Kabupaten Kalimatan Selatan dapat memperoleh keuntungan dan layak untuk dikembangkan. 1) keuntungan yang diperoleh usaha tani Jengkol sebesar Rp. 23.854.644. 2) nilai Revenue cost Ratio (R/C) yang diperoleh usaha tani Jengkol 2,357. 3) BEP Harga usaha tani Jengkol sebesar Rp. 572,8. 4) BEP Produksi pada usaha tani Jengkol sebesar 13,023 Kg





C.      Kerangka Pikir
Dasar kerangka pemikiran dalam penelitian ini terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan. Didalam penelitian ini, nantinya peneliti akan menganalisi pendapatan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor  Kabupaten Aceh Singkil apakah usaha ini layak untuk dikembangkan atau tidak layak di kembangkan. Sehingga peneliti dapat membuat kerangka pikir sebagai berikut :
Desa Lae Pinang
 
           
Penerimaan (Rp)
Biaya Tetap

Usaha tani Jengkol
Biaya Tidak Tetap

Harga Jengkol (RP)
·      Pendapatan
·      R/C
·      B/C
·      BEP (Break Even Point)
 














D.      Hipotesis
1.         Diduga Biaya  tetap Dan tidak tetap dapat menghasilkan keutungan dari biaya yang dikeluarkan.
2.         Diduga tingkat Pendapatan usahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil adalah menguntungkan
3.         Diduga uasahatani Jengkol di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil adalah layak untuk di kembangkan

















BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil, penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April 2019 sampai dengan selesai.
B.       Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan sampel pada umumnya bersifat terpadu, mulai dari isi kajian terhadap berbagai teori yang bersifat substantive dan mendasar sampai kepada hal-hal bersifat operasional teknis. Laporan hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk skripsi, terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik. Laporan untuk masyarakat akademik cenderung bersifat teknis, berisi apa yang di teliti secara lengkap, alasan hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif.
C.      Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah jumlah anggota sampel secara keseluruhan, sedangkan yang dimaksud dengan sampel adalah bagian dari anggota populasi yang terpilih sebagai objek pengamatan penelitian (Soekartawi, 1995).
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh petani Jengkol yang ada di Desa Lae Pinang Kecamatan Singkohor Kabupaten Aceh Singkil yaitu  sebanyak 20 Petani keluarga. Sedangkan sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 10 petani keluarga.

D.      Teknik Pengumpulan Data
Suharsini Arikunto (2010), mendifinisikan teknik pengumpulan data sebagai cara bagaimana dapat memperoleh data mengenai variabel-variabel tertentu. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
Data primer merupakan sumber data atau informasi yang langsung memberikan data kepada pengumpul data atau peneliti. Data sekunder merupakan data yang diperoleh seorang peneliti secara tidak langsung dari subjek atau objek yang diteliti, tetapi melalui pihak lain, seperti instansi-instansi atau lembaga-lembaga yang terkait, perpustakaan, arsip perorangan, dan sebagainya. Pengumpulan data dilakukan untuk menggali data primer yaitu dengan teknik observasi dan wawancara, sedangkan teknik pengumpulan data sekunder yaitu dengan menggunakan teknik dokumentasi.
a)         Observasi
Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian. Observasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran awal tentang daerah penelitian, serta untuk mendapatkan gambaran umum daerah penelitian.
b)         Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan wawancara berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuad daftar pertanyaan yang kadang-kadang juga disertai dengan daftar jawaban alternatifnya. Dengan maksud agar pengumpulan data lebih terarah kepada tujuan penelitian. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara berupa daftar pertanyaan, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan dan kelayakan usaha tani durian pada daerah penelitian.
c)         Dokumentasi
Dokumentasi adalah sebuah teknik pengumpulan data yang hasilnya dapat berbentuk surat, catatan harian, cindera mata, laporan dan foto. Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai deskripsi daerah penelitian, data monografi daerah penelitian, peta atminstratif, data rumah tangga, dan arsip lain yang berkaitan dengan penelitian.
E.       Teknik Analisi Data
Data yang terkumpul selanjutnya di tabulasi dan kemudian dilakukan analisis sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk membuktikan hipotesis digunakan pendekatan nominal dilakukan tanpa menghitung nilai uang menurut waktu (Time volue of monay) tapi yang dipakai adalah harga yang berlaku, sehingga langsung dapat dihitung pengeluran dan jumlah penerimaan dalam satu periode proses produksi
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam mencari hasil penelitian ini adalah (Mubyarto, 1994) :
1.         Penerimaan
Rumus TR = P . Q
KET :
TR = Penerimaan Total (Total Revenue)
P   = Harga Jual (Rp)
Q   = Jumlah Penjualan (Buah)
2.         Biaya Total
Rumus TC = FC + VC
KET :
TC = total cost ( Total Biaya)
FC = biaya tetap yang dikeluarkan (Rp)
VC = Biaya variable yang dikeluarkan (Rp)
3.         Pendapatan
Rumus I = TR - TC
KET :
I     = Pendapatan (Rp)
TR = Penerimaan Total (Rp)
TC = Biaya Total (Rp)
4.         R/C Ratio (Revenue Cost Ratio)
R/C Ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan pengeluaran dari suatu usaha yang dijalankan. Untuk menghitungnya dapat digunakan rumus sebagai berikut :
R/C Ratio =           Penerimaan
Total Biya Produksi
Kriteria penilaian R/C Ratio adalah
Jika R/C Ratio > 1 maka usaha dikatagorikan layak
Jika R/C Ratio < 1 maka usaha dikatagorikan tidak layak
Jika R/C Ratio = maka usaha dikatagorikan pada titik impas
5.         Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
Merupakan perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan atau pendapatan yang diperoleh dari investasi dengan nilai sekarang dari pengeluaran (biaya) selama investasi tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu.
Dimana Rumus :
B/C Ratio          = Tingkat Pendapatan
                            Total Biaya Produksi
Kriteria yang dipakai adalah usaha dikatakan memberikan manfaat jika B/C Ratio > 0
6.         BEP (Break Even Point)
Dengan Rumus :
BEP produksi (Q)       = Total Biaya Produksi
Harga Produksi
BEP Harga (P)            = Total Biaya Produksi
      Volume Produksi
F.       Definisi dan Batasan Operasional
Menurut Suharyino (2004) Definisi dan batasan operasional ini adalah
1.         Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan kerja. Curahan tenaga yang dipakai adalah besarnya tenaga kerja yang efektif dipakai (Perbulan)
2.         Modal
Modal dibagi berdasrkan sifatnya : modal tetap dan tidak tetap. Modal tetap adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang. Misalnya alat-alat seperti parang dan cangkul. Sementara itu yang dimaksud dengan modal tidak tetap adalah modal yang habis digunakan dalam satu kali pemakaian. Misalnya pupuk, insektisida dan herbisida.
3.         Tanaman Jengkol
     Jengkol adalah salah satu makanan rakyat yang banyak dikenal oleh masyarakat secara luas dari berbagai kalangan. Olahan masakan dengan bahan baku utama jengkol cukup banyak sehingga Anda bisa mencobanya. Aroma jengkol memang lebih menyengat jika dibandingkan dengan aroma pete. Namun bagi yang menyukai olahan jengkol tentu tidak akan memperdulikan aromanya. Olahan jengkol memiliki cita rasa yang sangat nikmat bagi yang menyukainya. Harga jengkol mengalami peningkatan pesat hal ini dikarenakan kebutuhan jengkol di pasaran semakin terus meningkat. Tingginya harga jengkol membuat beberapa masyarakat saat ini ingin mencoba menjalankan budidaya jengkol. (Sudarma, 2012).  










DAFTAR PUSTAKA

Arfah, Dkk. 2013. Analisis Komperatif Pendapatan Usahatani Padi Sawah Sistem Tabela dan Sistem Tapian. Palu : Agrotekbis.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Ashari. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta : UI – Press.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Singkil. 2018. Kecamatan Singkohor dalam Angka tahun 2018

Benard dan Wiryanta. 2008. Bertanam Jengkol. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Hutauaruk. 2010. Klasifikasi dan Marfologi Tanaman Jengkol. Swakarya. Jambi

Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : Pustaka LP3SE.

Nurjanah. 2014. Makalah Tanamn Jenkol. PROASIA. Bogor

Purnomosidhi. 2007. Perbanyakan dan Budidaya Buah-buahan : Jengkol, Mangga, Kakao, Maninjau dan Sawu. Bogor : Pedoman Lapangan.

Soekartawi. 1995 Analisis Usahatani. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Sudarma. 2012. Sosisologi Jengkol. Jakarta : Salemba Medika.

Suharyono, 1994. Pengantar Filsafat Geogerafi. Jakarta : Departemen P dan K.

Sumaatmadja, Nursid. (1981). Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Bandung : Alumni.

Wiralaksana, Abbas Tjakra dan M Cuhaya Soeriatatmadja. (1983). Usahatani.       Jakarta : Depdikbud.








HAK CIPTA : SUSANDI


kuliah di perguruan tinggi STIP YASHAFA
NIM 152010034

Komentar